Pages

Pelatihan Pengasuh Pengajian Anak

Peserta Pelatihan berfoto bersama Ust. Imam Triyono seusai acara yang berlangsung di Pustaka Rumah Dunia

Santri Madinsa sedang Tampil

Santriwan-santriwati Madinsa tampil dalam Pengajian Akbar Isra' Mi'raj jamaah Masjid Sabiilul Muttaqiin.

Pengajian Anak bersama Ust. M. Sutrisno dari Bantul

Anak-anak asyik mendengarkan pengajian dan dongeng yang disampaikan Ust. M. Sutrisno.

Pustaka Rumah Dunia

Tempat bermain dan belajar, menumbuhkan imaji, memberri edukasi dan inspirasi.

Bermain dan Belajar

Membiasakan anak sejak kecil agar menyukai dunia baca.

Kamis, 09 Agustus 2012

Raja Tanpa Istana


Ada sirat keterkejutan di wajah Sant Sophronius of Jerusalem, uskup Agung Yerusalem, kala menyerahkan kota suci itu secara damai kepada Umar Bin Khattab. Umar datang sendirian dengan menunggang unta. Tanpa iringan pasukan dan pengawal. Berjubah lusuh dan penuh jahitan. Ia hanya membawa bekal makanan sekedarnya. Seluruh pasukan Muslim diperintahkan bersikap adil, tidak merusak apapun bahkan mereka tidak diperkenankan menebang meskipun hanya sebatang pohon.
Pada kesempatan lain, seorang utusan Romawi ingin bertemu Khalifah ‘Umar bin Khattab. Ia mencari istana, kediaman khalifah. Kepada penduduk utusan itu bertanya di mana letak istana khalifah.
“Ia tak memiliki istana,” jawab mereka.
“Di mana bentengnya?”
“Ia tidak memiliki benteng.”
Penduduk menunjukkan tempat tinggal sang khalifah yang tak berbeda dengan rumah penduduk lainnya. Tak ada pagar yang tinggi mengelilingi. Tak ada pasukan yang menjaga. Bahkan utusan itu semakin terkejut saat mengetahui khalifah sedang beristirahat di bawah pohon!

Khalifah ‘Umar bin Khattab, seorang amirul mukminin, pemimpin orang-orang mukmin, kekuasaannya membentang dari Afrika Utara, Mesir, Suriah, Lebanon, Palestina hingga Persia. Jika ingin, tidak sulit baginya untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dengan menarik upeti dari daerah kekuasaannya itu. Tapi itu bukan sifat Umar. Ada radiasi kesederhanaan yang membekas dalam diri khalifah. Radiasi yang dipancarkan langsung dari pribadi agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar pernah menangis saat melihat guratan pelepah kurma di punggung Rasulullah.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, sungguh Raja Kisra dan Kaisar Romawi dalam keadaan kafir, mereka bergelimang harta, sedang engkau adalah utusan Allah,” jawab Umar.
Dengan bijak Rasulullah bersabda, “Wahai Umar, tidaklah engkau ridha jika mereka mendapat dunia dan bagi kita akhirat?”
Allah berfirman, “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang sekarang, maka Kami segerakan kepadanya apa yang Kami kehendaki, untuk orang yang Kami sukai, kemudian Kami jadikan untuknya neraka jahannam, ia masuk ke dalamnya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Al –Israa’: 18)
Umar sadar betul, bahwa hidup di dunia bukan sebuah keabadian. Tidak semua keinginan harus diturutkan. Suatu ketika Umar melihat Jabir bin Abdullah membawa daging.
Umar bertanya, “Apakah ini hai Jabir?”
Jabir menjawab, “Ini daging yang saya beli karena saya menginginkannya.”
Umar kemudian berkata, “Apakah semua yang kamu inginkan kamu beli? Tidakkah sebaiknya kamu mengosongkan sebagian perut kamu untuk memberikan makanan kepada tetanggamu dan keponakanmu. Tidakkah kamu perhatikan firman Allah, “Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu di dunia dan kamu telah bersenang-senang dengannya.”
“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik." (Al Ahqaaf [46]: 20)
Menunda untuk menikmati setiap keinginan diri menjadikan hidup lebih tenteram. Dan manusia bisa bersabar menghadapi godaan duniawi. Karena bila diturutkan keinginan manusia tidak akan ada habisnya. Kecuali dengan datangnya ajal. Seperti disampaikan Rasulullah, meskipun mempunyai dua lembah emas manusia tidak akan pernah puas.
Begitulah sebagian episode dari kehidupan Umar. Apakah semua itu dikarenakan Umar orang yang miskin? Bukan. Umar berasal dari klan terhormat, Quraisy. Sebelum memeluk Islam, dia adalah seorang pedagang lintas negara, sejak muda telah berdagang hingga Persia dan Mesir. Tidak heran bila harta kekayaannya melimpah. Dahulu ia hidup dalam kemewahan. Kemudian Islam datang, mengajarkannya arti sebuah kesederhanaan.
Kesederhanaan tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan. Kesederhanaan lebih mewakili sikap menjaga diri dari berlebih-lebihan. Karena orientasi hidup bukanlah semata untuk memuaskan keinginan di dunia. Melainkan untuk negeri yang lebih kekal, akhirat. Kesederhanaan bukan pula menjadi wujud penghindaran dari kekayaan dunia sebagai pelindung kemalasan. Umar hidup dalam kesederhanaan untuk dirinya, namun tidak pelit memberikan harta di jalan Allah.
Umar pernah bersaing dengan Abu Bakar untuk berinfak saat persiapan perang Tabuk. Ia serahkan separuh hartanya.
Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar Khatab, ia berkata, “Rasulullah menyuruh kami untuk mengeluarkan sedekah. Kebetulan saat itu aku sedang memiliki harta. Lalu aku katakan, “Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, dimana aku tidak pernah mengalahkan Abu Bakar sebelum ini. Aku datang kepada Rasulullah untuk menginfakkan separuh dari harta milikku.
Rasulullah bertanya kepadaku, “Lalu apa yang kau sisakan untuk keluargamu.”. Aku katakan kepada Rasulullah bahwa aku meninggalkan seperti apa yang aku infakkan. Kemudian Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan menginfakkan semua hartanya. Rasulullah menanyakan padanya,
“Lalu apa yang kau sisakan untuk keluargamu?”
“Aku menyisakan untuk mereka Allah dan Rasulullah”
Aku (Umar) berkata setelah itu bahwa aku tidak mungkin dapat mengalahkan Abu Bakar dalam segala hal untuk selamanya.”
Tentang kesungguhan Umar ra dan kebaikannya dalam masalah harta, Abdullah bin Umar ra berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun setelah Rasulullah Saw yang begitu bersungguh-sungguh dan paling baik dalam menggunakan hartanya hingga wafat selain Umar bin Khatab.” (Fathul Bari, al-Hafidz Ibn Hajar Al Asqalani)
Itulah sekelumit riwayat seorang raja yang tak memiliki istana.

e. hamdani (penulis buku agar Allah selalu bersama kita)
tulisan ini pernah dimuat di Majalah Bakti

Ahli Siasat dari Persia


Sebutlah perang Khandaq, maka ingatan orang akan dituntun kepada sosok berpikiran brilian ini. Ia lahir di Isfahan Persia. Lahir di tengah keluarga yang beragama Majusi. Ayahnya termasuk orang yang kaya, sehingga bisa hidup berkecukupan. Untuk menjaga keselamatan, sang ayah melarangnya bermain bebas keluar rumah. Hingga suatu ketika keadaan memaksanya keluar untuk memeriksa ladang. Di tengah perjalanan ia melihat orang-orang Nasrani sedang beribadah, ia memperhatikan dan tertarik. Sesampainya di rumah ia bercerita kepada sang ayah dan bertanya tentang apa yang dilihat. Karena khawatir anaknya akan meninggalkan agama majusi yang merupakan agama nenek moyang, maka sang ayah mengikat kedua kakinya agar tidak keluar rumah.
            Di waktu lain, ada kesempatan untuk keluar rumah dia pun datang kembali ke tempat orang Nasrani beribadah dan memeluk agama itu. Sampai suatu ketika seorang pendeta menyarankan agar ia pergi ke daerah yang diapit dua batu hitam, dan terdapat banyak pohon kurma. Di sana ada seorang Nabi yang datang untuk menyeru manusia kepada keselamatan. Ia pun segera mencari tempat itu, dan berhasil menemui Nabi Muhammad Saw. yang saat itu telah hijrah ke Madinah.
            Ia menemui Nabi, tetapi ia termasuk pencari kebenaran yang tidak mudah percaya. Maka ia berusaha menguji, untuk membuktikan bahwa orang yang ditemui itu adalah Nabi. Pertama ia memberikan kurma kepada Nabi, sebagai bentuk sedekah. Nabi menerima kurma itu dan memberikannya kepada para sahabat. Nabi tidak memakannya. Kedua, ia memberikan kurma sebagai hadiah. Nabi menerimanya memakan sebagian dan sebagian lagi diberikan kepada para sahabat. Ketiga, pada suatu kesempatan ia berusaha melihat tanda kenabian di pundak Nabi. Begitulah, tiga hal yang pernah ia dengar tentang Nabi, bahwa ia tidak memakan harta sedekah, tetapi memakan hadiah, dan ada tanda kenabian di pundaknya. Setelah ketiganya terbukti ia kemudian mengikrarkan diri masuk Islam.
            Perannya dalam perjuangan Islam sangat penting baik semasa Nabi Muhammad Saw. maupun pada masa khulafaurrasyidin. Selain mengusulkan siasat perang parit (khandaq) untuk membendung pasukan koalisi dari Makkah yang dipimpin kaum Quraisy, ia juga sangat berjasa membantu membebaskan negeri Persia dari cengkeraman Kisra. Ia termasuk pasukan yang dikirim di bawah pimpinan panglima Saad bin Abi Waqash pada masa khalifah ‘Umar bin Khattab.
Ia rendah hati meskipun Umar bin Khattab telah mengangkatnya menjadi Gubernur Madain. Biasa keluar masuk kampung dengan pakaian layaknya rakyat jelata. Berbaur dengan pedagang dan para kuli tanpa merasa sungkan. Kerendahhatiannya bisa terbaca lewat sikapnya saat seorang pedagang menyuruhnya mengangkat barang dagangan.
Siang itu mentari panas memanggang, seorang pedagang dari Syam tampak kerepotan membawa barang dagangan. Ia lantas memanggil lelaki tegap berpakaian lusuh yang dilihatnya.
“Hai, kuli, kesini! Bawa barang-barang ini ke kedai di seberang jalan itu!” seru sang pedagang.
Lelaki yang diperintah pun mengerjakannya tanpa membantah. Mengangkat barang bawaan dan membawanya ke tempat yang dimaksud. Seseorang yang mengenali ‘kuli’ itu datang menghampiri dan menyapa.
“Wahai Amir, biarkan saya yang mengangkatnya.”
Belum hilang kekagetan dalam diri sang pedagang, orang tersebut menjelaskan, “Tidak tahukah tuan, dia adalah gubernur kami.”
Lemaslah tubuh sang pedagang, ia benar-benar tidak menyangka orang yang dianggapnya kuli ternyata seorang gubernur. Dengan nada bergetar ia memohon maaf.
“Ampuni saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu. Tuan adalah seorang amir negeri Madain,“. Kemudian ia melanjutkan “Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang membawanya sendiri.”
Ia menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”
Badannya penuh keringat, ia menaruh barang bawaannya di kedai yang dimaksud pedagang, ia lantas berucap, “Pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan jabatanku sebagai gubernur. Aku telah menerima dengan rela perintahmu untuk mengangkat barang ini. Aku wajib melaksanakannya sampai selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap muslim untuk meringankan beban saudaranya?”
Pedagang itu hanya bisa menggeleng. Ia merasa kagum. Tidak pernah menduga orang yang dianggapnya sebagai kuli ternyata seorang gubernur. Karena memang ia tidak mengenakan pakaian layaknya pejabat dan tidak pula membawa pengawal.
Nama lengkapnya Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani. Atau yang lebih dikenal dengan nama Salman Al-Farisi.  Sedangkan nama panggilannya adalah Abu Abdillah dan mendapat gelar Salman Al-Khair. Sedang ia sendiri lebih senang dipanggil Salman bin Islam. Salman Al Farisi berasal Isfahan, Persia.
Berbagai keutamaan dimiliki Salman, sehingga Rasulullah pernah bersabda, ''Surga merindukan tiga orang, yakni Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, dan Salman Al-Farisi.''
Sedangkan Ali bin Abi Thalib mengatakan tentang Salman, ''Siapa orang yang kalian miliki yang seperti Lukman Al-Hakim? Ia diberi pengetahuan tentang syariat terdahulu dan syariat yang turun belakangan; ia membaca dan mempelajari kitab suci yang terdahulu dan kitab suci yang turun paling akhir. Ilmunya bak lautan yang tidak pernah kering.''
Salman adalah salah satu mufti pada zaman Rasulullah. Ia meninggal tahun 34 hijriyah pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Sebagian ahli mengatakan ketika meninggal usia Salman telah mencapai 250 tahun, sedang yang lain mengatakan 350 tahun. Tetapi yang jelas, usianya ketika meninggal memang tidak lazim pada masa itu.

E. Hamdani (Penulis Buku Agar Allah Selalu Bersama Kita)
            Artikel ini pernah dimuat di Majalah Bakti

Sabtu, 04 Agustus 2012

Lelaki dari Langit


“Saya mendengar Rasulullah Saw., bersabda, ‘Riya’ (pamer) sekalipun kecil merupakan syirik. Dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang takwa dan tidak dikenal, kendati mereka tiada, mereka tetap tidak kehilangan dan sekalipun mereka ada, mereka tetap tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita petunjuk, mereka selamat dari debu yang gelap dan pekat.” (HR. Thabrani dan Hakim)

Abu al Faraj Ibnul Jauzi, menukilkan sebuah kisah penuh makna tentang seorang pemuda bernama Uwais al Qarni. Ia hidup sezaman dengan Rasulullah namun tidak sempat bertemu.
Pemuda dari negeri Yaman ini tak dikenal banyak orang, hidup dalam kemiskinan dan banyak orang yang menghinanya. Ia memiliki seorang ibu yang sudah tua dan buta, sehingga kebutuhan sehari-harinya harus dicukupi Uwais. Hal ini pulalah yang menyebabkan Uwais hanya bisa memendam kerinduan untuk bertemu dengan Rasulullah, apalagi ketika orang-orang datang dari Madinah dan menceritakan pertemuan mereka dengan Rasulullah. Kerinduan Uwais semakin memuncak.

Suatu kali Uwais menguatkan hati meminta ijin kepada ibunya untuk berangkat ke Madinah menemui Rasulullah. Alangkah senangnya hati Uwais karena ternyata ibunya memberi ijin, tetapi ia dipesan agar lekas kembali lagi. Setelah menyiapkan semua perbekalan untuk ibunya, Uwais kemudian memohon diri dan berangkat ke Madinah.

Sesampainya di Madinah dengan penuh semangat dan rasa bahagia, ia menuju rumah Rasulullah dan mengatakan ingin bertemu Rasulullah. Tapi sayang ia tidak bisa bertemu karena saat itu Rasulullah dan kaum Muslimin sedang berada di medan perang. Betapa sedih hati Uwais, ia ingin menunggu hingga Rasulullah kembali tetapi ia kemudian teringat pesan ibunya, agar ia lekas pulang. Karena ketaatan kepada ibunya tersebut, Uwais akhirnya kembali ke Yaman, dan meredam keinginan hatinya untuk bertemu Rasulullah. Ia melangkah pulang dengan perasaan haru.

Saat Rasulullah kembali dari medan perang, beliau langsung menanyakan perihal orang yang mencarinya. Seorang yang taat kepada ibunya, penghuni langit dan banyak dikenal di langit.
‘Aisyah menyampaikan bahwa ada seorang lelaki yang ingin bertemu Rasulullah tetapi kemudian segera pulang ke Yaman karena tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rasulullah kemudian bersabda, seraya memandang ‘Umar dan ‘Ali, “Suatu ketika, jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan dimintakan ampun, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”

Selang beberapa lama, ‘Umar dan ‘Ali mencari Uwais dan melaksanakan apa yang disabdakan Rasulullah tersebut. Uwais kemudian berkata kepada ‘Umar dan ‘Ali, “Hamba meminta supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Pada saat meninggal, banyak orang yang tidak dikenal oleh penduduk Yaman mengantar dan mengiringi jenazah Uwais, sehingga penduduk Yaman menjadi terheran-heran. Agaknya mereka itu adalah malaikat yang diturunkan ke bumi. Barulah penduduk Yaman menyadari siapa Uwais al Qarni. Dialah hamba yang tidak dikenal di bumi, tetapi sangat terkenal di langit.
Subhanallah! Kisah Uwais di atas semestinya membuat kita merasa kecil dan tak berarti. Betapa kita dengan amal-amal yang masih terbatas, dengan kebaikan yang tidak seberapa, lebih menginginkan untuk dikenal banyak orang sebagai ahli ibadah. Ingin mendapatkan sanjung puji dari sesama manusia dan mendapat gelar orang yang shaleh. Padahal Allah memerintahkan kita untuk beribadah semata untuk mengharap ridha-Nya, dan adalah Allah Dzat yang lebih pantas untuk diharapkan balasannya.

E. Hamdani (Penulis Buku, Agar Allah Selalu Bersama Kita)
(tulisan pernah dimuat di Majalah Bakti)

Falsafah Telur


Kebaikan bisa saja lahir dari keterpaksaan, meskipun akan lebih terasa nyaman jika kebaikan itu hadir bersama kesadaran. Dari sebutir telur kita bisa mengambil falsafah untuk menerjemahkan penggal kalimat di atas.

Di dalam telur tersimpan benih kehidupan, maka ia dilindungi cangkang yang keras. Jika sedikit saja cangkang retak atau pecah yang disebabkan faktor dari luar, akan membuat telur gagal menetas. Tidak ada kehidupan yang muncul. Sebaliknya jika cangkang itu pecah karena faktor dari dalam, karena memang waktunya menetas, akan melahirkan satu makhluk hidup baru yang siap berkembang.

Sobat, begitu juga dengan diri kita. Jika nilai-nilai kebaikan universal seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, cinta kebersihan dan lainnya kita lakukan karena keterpaksaan atau rasa takut dari pihak luar. Dari guru atau orang tua, misalnya. Maka kebaikan-kebaikan itu akan terasa berat untuk dilakukan, dan mudah terhenti bila tidak ada lagi kontrol dari orang lain. Tidak memberi kesan dalam diri.

Berbeda jika kebaikan itu lahir dari kesadaran diri. Mengingat manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh. Besar kemungkinan, kebiasaan baik itu akan tetap terjaga secara konsisten. Akan melahirkan ‘kehidupan baru’ yang semakin mendekatkan diri kita kepada kesuksesan.
“Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Asy Syuura [42]: 23)

Memunculkan kesadaran dari dalam diri untuk melakukan kebaikan memang tidak mudah. Butuh ilmu, keyakinan dan ikhtiar secara terus-menerus. Ilmu yang membuat seorang tahu kemanfaatan dari amal yang dilakukan. Keyakinan akan membentuk jiwa yang percaya kepada diri sendiri. Tidak mudah tergerus oleh pergaulan yang mengajak kepada kerusakan. Sedang ikhtiar yang konsisten akan mengubah kebiasaan menjadi akhlak. Sebab memang ada kalanya pembentukan akhlak harus dipaksa.

Sobat, hari ini kita telah belajar falsafah dari sebutir telur. Semoga membukakan hati kita untuk lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan yang lahir dari kesadaran diri. Allah telah berjanji, setiap kebaikan, akan dibalas dengan kebaikan.
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahmaan [55]: 60)
                                   
e. hamdani
Penulis Buku, “Agar Allah Selalu Bersama Kita”

Pelatihan Pengelolaan Pengajian Anak Berjalan Lancar


Alhamdulillah, event bertajuk Pelatihan Pengelolaan Pengajian Anak Menjelang Buka Puasa berjalan lancar. Kegiatan yang digelar Pustaka Rumah Dunia dan P2A Sendangagung Minggir tersebut berlangsung, Ahad, 15 Juli 2012, dan diikuti sekitar 15 peserta dari beberapa jamaah di Sendangagung.

Acara yang dimaksudkan memberi bekal bagi para pengasuh pengajian anak itu dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama dengan materi Bermain Cerita dan Menyanyi (BCM) disampaikan oleh Ust. Joni Sudarsono, yang merupakan pengurus Badko Daerah Sleman. Sedang materi kedua tentang Pengelolaan Pengajian Anak, disampaikan oleh Ust. Imam Triyono, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama.

Ke depan Pustaka Rumah Dunia juga akan menggelar berbagai acara serupa agar terus bisa mengedukasi dan menginspirasi masyarakat.