Pages

Kamis, 09 Agustus 2012

Ahli Siasat dari Persia


Sebutlah perang Khandaq, maka ingatan orang akan dituntun kepada sosok berpikiran brilian ini. Ia lahir di Isfahan Persia. Lahir di tengah keluarga yang beragama Majusi. Ayahnya termasuk orang yang kaya, sehingga bisa hidup berkecukupan. Untuk menjaga keselamatan, sang ayah melarangnya bermain bebas keluar rumah. Hingga suatu ketika keadaan memaksanya keluar untuk memeriksa ladang. Di tengah perjalanan ia melihat orang-orang Nasrani sedang beribadah, ia memperhatikan dan tertarik. Sesampainya di rumah ia bercerita kepada sang ayah dan bertanya tentang apa yang dilihat. Karena khawatir anaknya akan meninggalkan agama majusi yang merupakan agama nenek moyang, maka sang ayah mengikat kedua kakinya agar tidak keluar rumah.
            Di waktu lain, ada kesempatan untuk keluar rumah dia pun datang kembali ke tempat orang Nasrani beribadah dan memeluk agama itu. Sampai suatu ketika seorang pendeta menyarankan agar ia pergi ke daerah yang diapit dua batu hitam, dan terdapat banyak pohon kurma. Di sana ada seorang Nabi yang datang untuk menyeru manusia kepada keselamatan. Ia pun segera mencari tempat itu, dan berhasil menemui Nabi Muhammad Saw. yang saat itu telah hijrah ke Madinah.
            Ia menemui Nabi, tetapi ia termasuk pencari kebenaran yang tidak mudah percaya. Maka ia berusaha menguji, untuk membuktikan bahwa orang yang ditemui itu adalah Nabi. Pertama ia memberikan kurma kepada Nabi, sebagai bentuk sedekah. Nabi menerima kurma itu dan memberikannya kepada para sahabat. Nabi tidak memakannya. Kedua, ia memberikan kurma sebagai hadiah. Nabi menerimanya memakan sebagian dan sebagian lagi diberikan kepada para sahabat. Ketiga, pada suatu kesempatan ia berusaha melihat tanda kenabian di pundak Nabi. Begitulah, tiga hal yang pernah ia dengar tentang Nabi, bahwa ia tidak memakan harta sedekah, tetapi memakan hadiah, dan ada tanda kenabian di pundaknya. Setelah ketiganya terbukti ia kemudian mengikrarkan diri masuk Islam.
            Perannya dalam perjuangan Islam sangat penting baik semasa Nabi Muhammad Saw. maupun pada masa khulafaurrasyidin. Selain mengusulkan siasat perang parit (khandaq) untuk membendung pasukan koalisi dari Makkah yang dipimpin kaum Quraisy, ia juga sangat berjasa membantu membebaskan negeri Persia dari cengkeraman Kisra. Ia termasuk pasukan yang dikirim di bawah pimpinan panglima Saad bin Abi Waqash pada masa khalifah ‘Umar bin Khattab.
Ia rendah hati meskipun Umar bin Khattab telah mengangkatnya menjadi Gubernur Madain. Biasa keluar masuk kampung dengan pakaian layaknya rakyat jelata. Berbaur dengan pedagang dan para kuli tanpa merasa sungkan. Kerendahhatiannya bisa terbaca lewat sikapnya saat seorang pedagang menyuruhnya mengangkat barang dagangan.
Siang itu mentari panas memanggang, seorang pedagang dari Syam tampak kerepotan membawa barang dagangan. Ia lantas memanggil lelaki tegap berpakaian lusuh yang dilihatnya.
“Hai, kuli, kesini! Bawa barang-barang ini ke kedai di seberang jalan itu!” seru sang pedagang.
Lelaki yang diperintah pun mengerjakannya tanpa membantah. Mengangkat barang bawaan dan membawanya ke tempat yang dimaksud. Seseorang yang mengenali ‘kuli’ itu datang menghampiri dan menyapa.
“Wahai Amir, biarkan saya yang mengangkatnya.”
Belum hilang kekagetan dalam diri sang pedagang, orang tersebut menjelaskan, “Tidak tahukah tuan, dia adalah gubernur kami.”
Lemaslah tubuh sang pedagang, ia benar-benar tidak menyangka orang yang dianggapnya kuli ternyata seorang gubernur. Dengan nada bergetar ia memohon maaf.
“Ampuni saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu. Tuan adalah seorang amir negeri Madain,“. Kemudian ia melanjutkan “Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang membawanya sendiri.”
Ia menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”
Badannya penuh keringat, ia menaruh barang bawaannya di kedai yang dimaksud pedagang, ia lantas berucap, “Pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan jabatanku sebagai gubernur. Aku telah menerima dengan rela perintahmu untuk mengangkat barang ini. Aku wajib melaksanakannya sampai selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap muslim untuk meringankan beban saudaranya?”
Pedagang itu hanya bisa menggeleng. Ia merasa kagum. Tidak pernah menduga orang yang dianggapnya sebagai kuli ternyata seorang gubernur. Karena memang ia tidak mengenakan pakaian layaknya pejabat dan tidak pula membawa pengawal.
Nama lengkapnya Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani. Atau yang lebih dikenal dengan nama Salman Al-Farisi.  Sedangkan nama panggilannya adalah Abu Abdillah dan mendapat gelar Salman Al-Khair. Sedang ia sendiri lebih senang dipanggil Salman bin Islam. Salman Al Farisi berasal Isfahan, Persia.
Berbagai keutamaan dimiliki Salman, sehingga Rasulullah pernah bersabda, ''Surga merindukan tiga orang, yakni Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, dan Salman Al-Farisi.''
Sedangkan Ali bin Abi Thalib mengatakan tentang Salman, ''Siapa orang yang kalian miliki yang seperti Lukman Al-Hakim? Ia diberi pengetahuan tentang syariat terdahulu dan syariat yang turun belakangan; ia membaca dan mempelajari kitab suci yang terdahulu dan kitab suci yang turun paling akhir. Ilmunya bak lautan yang tidak pernah kering.''
Salman adalah salah satu mufti pada zaman Rasulullah. Ia meninggal tahun 34 hijriyah pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Sebagian ahli mengatakan ketika meninggal usia Salman telah mencapai 250 tahun, sedang yang lain mengatakan 350 tahun. Tetapi yang jelas, usianya ketika meninggal memang tidak lazim pada masa itu.

E. Hamdani (Penulis Buku Agar Allah Selalu Bersama Kita)
            Artikel ini pernah dimuat di Majalah Bakti

0 komentar:

Posting Komentar