Kebaikan
bisa saja lahir dari keterpaksaan, meskipun akan lebih terasa nyaman jika
kebaikan itu hadir bersama kesadaran. Dari sebutir telur kita bisa mengambil
falsafah untuk menerjemahkan penggal kalimat di atas.
Di dalam telur tersimpan benih
kehidupan, maka ia dilindungi cangkang yang keras. Jika sedikit saja cangkang
retak atau pecah yang disebabkan faktor dari luar, akan membuat telur gagal
menetas. Tidak ada kehidupan yang muncul. Sebaliknya jika cangkang itu pecah
karena faktor dari dalam, karena memang waktunya menetas, akan melahirkan satu
makhluk hidup baru yang siap berkembang.
Sobat, begitu juga dengan diri kita.
Jika nilai-nilai kebaikan universal seperti kejujuran, disiplin, kerja keras,
cinta kebersihan dan lainnya kita lakukan karena keterpaksaan atau rasa takut
dari pihak luar. Dari guru atau orang tua, misalnya. Maka kebaikan-kebaikan itu
akan terasa berat untuk dilakukan, dan mudah terhenti bila tidak ada lagi
kontrol dari orang lain. Tidak memberi kesan dalam diri.
Berbeda jika kebaikan itu lahir dari
kesadaran diri. Mengingat manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh. Besar
kemungkinan, kebiasaan baik itu akan tetap terjaga secara konsisten. Akan
melahirkan ‘kehidupan baru’ yang semakin mendekatkan diri kita kepada
kesuksesan.
“Dan siapa yang mengerjakan kebaikan
akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Asy Syuura [42]: 23)
Memunculkan kesadaran dari dalam
diri untuk melakukan kebaikan memang tidak mudah. Butuh ilmu, keyakinan dan
ikhtiar secara terus-menerus. Ilmu yang membuat seorang tahu kemanfaatan dari
amal yang dilakukan. Keyakinan akan membentuk jiwa yang percaya kepada diri
sendiri. Tidak mudah tergerus oleh pergaulan yang mengajak kepada kerusakan.
Sedang ikhtiar yang konsisten akan mengubah kebiasaan menjadi akhlak. Sebab
memang ada kalanya pembentukan akhlak harus dipaksa.
Sobat, hari ini kita telah belajar
falsafah dari sebutir telur. Semoga membukakan hati kita untuk lebih
bersemangat dalam melakukan kebaikan yang lahir dari kesadaran diri. Allah
telah berjanji, setiap kebaikan, akan dibalas dengan kebaikan.
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali
kebaikan (pula).” (Ar Rahmaan [55]: 60)
e. hamdani
Penulis Buku, “Agar
Allah Selalu Bersama Kita”







0 komentar:
Posting Komentar