Ada
sirat keterkejutan di wajah Sant Sophronius of Jerusalem, uskup Agung
Yerusalem, kala menyerahkan kota suci itu secara damai kepada Umar Bin Khattab.
Umar datang sendirian dengan menunggang unta. Tanpa iringan pasukan dan
pengawal. Berjubah lusuh dan penuh jahitan. Ia hanya membawa bekal makanan
sekedarnya. Seluruh pasukan Muslim diperintahkan bersikap adil, tidak merusak
apapun bahkan mereka tidak diperkenankan menebang meskipun hanya sebatang
pohon.
Pada
kesempatan lain, seorang utusan Romawi ingin bertemu Khalifah ‘Umar bin
Khattab. Ia mencari istana, kediaman khalifah. Kepada penduduk utusan itu
bertanya di mana letak istana khalifah.
“Ia
tak memiliki istana,” jawab mereka.
“Di
mana bentengnya?”
“Ia
tidak memiliki benteng.”
Penduduk
menunjukkan tempat tinggal sang khalifah yang tak berbeda dengan rumah penduduk
lainnya. Tak ada pagar yang tinggi mengelilingi. Tak ada pasukan yang menjaga.
Bahkan utusan itu semakin terkejut saat mengetahui khalifah sedang beristirahat
di bawah pohon!
Khalifah
‘Umar bin Khattab, seorang amirul mukminin, pemimpin orang-orang mukmin,
kekuasaannya membentang dari Afrika Utara, Mesir, Suriah, Lebanon, Palestina
hingga Persia. Jika ingin, tidak sulit baginya untuk mengumpulkan pundi-pundi
kekayaan dengan menarik upeti dari daerah kekuasaannya itu. Tapi itu bukan sifat
Umar. Ada radiasi kesederhanaan yang membekas dalam diri khalifah. Radiasi yang
dipancarkan langsung dari pribadi agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam. ‘Umar pernah menangis saat melihat guratan pelepah kurma di punggung
Rasulullah.
“Apa
yang membuatmu menangis?” tanya Rasulullah.
“Wahai
Rasulullah, sungguh Raja Kisra dan Kaisar Romawi dalam keadaan kafir, mereka
bergelimang harta, sedang engkau adalah utusan Allah,” jawab Umar.
Dengan
bijak Rasulullah bersabda, “Wahai Umar, tidaklah engkau ridha jika mereka
mendapat dunia dan bagi kita akhirat?”
Allah
berfirman, “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang sekarang, maka Kami
segerakan kepadanya apa yang Kami kehendaki, untuk orang yang Kami sukai,
kemudian Kami jadikan untuknya neraka jahannam, ia masuk ke dalamnya dalam
keadaan tercela dan terusir.” (Al –Israa’: 18)
Umar
sadar betul, bahwa hidup di dunia bukan sebuah keabadian. Tidak semua keinginan
harus diturutkan. Suatu ketika Umar melihat Jabir bin Abdullah membawa daging.
Umar
bertanya, “Apakah ini hai Jabir?”
Jabir
menjawab, “Ini daging yang saya beli karena saya menginginkannya.”
Umar
kemudian berkata, “Apakah semua yang kamu inginkan kamu beli? Tidakkah
sebaiknya kamu mengosongkan sebagian perut kamu untuk memberikan makanan kepada
tetanggamu dan keponakanmu. Tidakkah kamu perhatikan firman Allah,
“Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu di dunia dan kamu telah
bersenang-senang dengannya.”
“Dan
(ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka
dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan
duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini
kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri
di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik." (Al Ahqaaf [46]: 20)
Menunda
untuk menikmati setiap keinginan diri menjadikan hidup lebih tenteram. Dan
manusia bisa bersabar menghadapi godaan duniawi. Karena bila diturutkan
keinginan manusia tidak akan ada habisnya. Kecuali dengan datangnya ajal.
Seperti disampaikan Rasulullah, meskipun mempunyai dua lembah emas manusia
tidak akan pernah puas.
Begitulah
sebagian episode dari kehidupan Umar. Apakah semua itu dikarenakan Umar orang
yang miskin? Bukan. Umar berasal dari klan terhormat, Quraisy. Sebelum memeluk
Islam, dia adalah seorang pedagang lintas negara, sejak muda telah berdagang
hingga Persia dan Mesir. Tidak heran bila harta kekayaannya melimpah. Dahulu ia
hidup dalam kemewahan. Kemudian Islam datang, mengajarkannya arti sebuah
kesederhanaan.
Kesederhanaan
tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan. Kesederhanaan lebih mewakili sikap
menjaga diri dari berlebih-lebihan. Karena orientasi hidup bukanlah semata
untuk memuaskan keinginan di dunia. Melainkan untuk negeri yang lebih kekal,
akhirat. Kesederhanaan bukan pula menjadi wujud penghindaran dari kekayaan
dunia sebagai pelindung kemalasan. Umar hidup dalam kesederhanaan untuk
dirinya, namun tidak pelit memberikan harta di jalan Allah.
Umar
pernah bersaing dengan Abu Bakar untuk berinfak saat persiapan perang Tabuk. Ia
serahkan separuh hartanya.
Abu
Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar Khatab, ia berkata, “Rasulullah
menyuruh kami untuk mengeluarkan sedekah. Kebetulan saat itu aku sedang
memiliki harta. Lalu aku katakan, “Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar,
dimana aku tidak pernah mengalahkan Abu Bakar sebelum ini. Aku datang kepada Rasulullah
untuk menginfakkan separuh dari harta milikku.
Rasulullah
bertanya kepadaku, “Lalu apa yang kau sisakan untuk keluargamu.”. Aku katakan
kepada Rasulullah bahwa aku meninggalkan seperti apa yang aku infakkan. Kemudian
Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan menginfakkan semua hartanya. Rasulullah
menanyakan padanya,
“Lalu
apa yang kau sisakan untuk keluargamu?”
“Aku
menyisakan untuk mereka Allah dan Rasulullah”
Aku (Umar)
berkata setelah itu bahwa aku tidak mungkin dapat mengalahkan Abu Bakar dalam
segala hal untuk selamanya.”
Tentang
kesungguhan Umar ra dan kebaikannya dalam masalah harta, Abdullah bin Umar ra
berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun setelah Rasulullah Saw yang
begitu bersungguh-sungguh dan paling baik dalam menggunakan hartanya hingga wafat
selain Umar bin Khatab.” (Fathul Bari, al-Hafidz Ibn Hajar Al Asqalani)
Itulah
sekelumit riwayat seorang raja yang tak memiliki istana.
e. hamdani (penulis buku agar Allah selalu bersama kita)
tulisan ini pernah dimuat di Majalah Bakti







0 komentar:
Posting Komentar