Pages

Kamis, 09 Agustus 2012

Raja Tanpa Istana


Ada sirat keterkejutan di wajah Sant Sophronius of Jerusalem, uskup Agung Yerusalem, kala menyerahkan kota suci itu secara damai kepada Umar Bin Khattab. Umar datang sendirian dengan menunggang unta. Tanpa iringan pasukan dan pengawal. Berjubah lusuh dan penuh jahitan. Ia hanya membawa bekal makanan sekedarnya. Seluruh pasukan Muslim diperintahkan bersikap adil, tidak merusak apapun bahkan mereka tidak diperkenankan menebang meskipun hanya sebatang pohon.
Pada kesempatan lain, seorang utusan Romawi ingin bertemu Khalifah ‘Umar bin Khattab. Ia mencari istana, kediaman khalifah. Kepada penduduk utusan itu bertanya di mana letak istana khalifah.
“Ia tak memiliki istana,” jawab mereka.
“Di mana bentengnya?”
“Ia tidak memiliki benteng.”
Penduduk menunjukkan tempat tinggal sang khalifah yang tak berbeda dengan rumah penduduk lainnya. Tak ada pagar yang tinggi mengelilingi. Tak ada pasukan yang menjaga. Bahkan utusan itu semakin terkejut saat mengetahui khalifah sedang beristirahat di bawah pohon!

Khalifah ‘Umar bin Khattab, seorang amirul mukminin, pemimpin orang-orang mukmin, kekuasaannya membentang dari Afrika Utara, Mesir, Suriah, Lebanon, Palestina hingga Persia. Jika ingin, tidak sulit baginya untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dengan menarik upeti dari daerah kekuasaannya itu. Tapi itu bukan sifat Umar. Ada radiasi kesederhanaan yang membekas dalam diri khalifah. Radiasi yang dipancarkan langsung dari pribadi agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar pernah menangis saat melihat guratan pelepah kurma di punggung Rasulullah.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, sungguh Raja Kisra dan Kaisar Romawi dalam keadaan kafir, mereka bergelimang harta, sedang engkau adalah utusan Allah,” jawab Umar.
Dengan bijak Rasulullah bersabda, “Wahai Umar, tidaklah engkau ridha jika mereka mendapat dunia dan bagi kita akhirat?”
Allah berfirman, “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang sekarang, maka Kami segerakan kepadanya apa yang Kami kehendaki, untuk orang yang Kami sukai, kemudian Kami jadikan untuknya neraka jahannam, ia masuk ke dalamnya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Al –Israa’: 18)
Umar sadar betul, bahwa hidup di dunia bukan sebuah keabadian. Tidak semua keinginan harus diturutkan. Suatu ketika Umar melihat Jabir bin Abdullah membawa daging.
Umar bertanya, “Apakah ini hai Jabir?”
Jabir menjawab, “Ini daging yang saya beli karena saya menginginkannya.”
Umar kemudian berkata, “Apakah semua yang kamu inginkan kamu beli? Tidakkah sebaiknya kamu mengosongkan sebagian perut kamu untuk memberikan makanan kepada tetanggamu dan keponakanmu. Tidakkah kamu perhatikan firman Allah, “Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu di dunia dan kamu telah bersenang-senang dengannya.”
“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik." (Al Ahqaaf [46]: 20)
Menunda untuk menikmati setiap keinginan diri menjadikan hidup lebih tenteram. Dan manusia bisa bersabar menghadapi godaan duniawi. Karena bila diturutkan keinginan manusia tidak akan ada habisnya. Kecuali dengan datangnya ajal. Seperti disampaikan Rasulullah, meskipun mempunyai dua lembah emas manusia tidak akan pernah puas.
Begitulah sebagian episode dari kehidupan Umar. Apakah semua itu dikarenakan Umar orang yang miskin? Bukan. Umar berasal dari klan terhormat, Quraisy. Sebelum memeluk Islam, dia adalah seorang pedagang lintas negara, sejak muda telah berdagang hingga Persia dan Mesir. Tidak heran bila harta kekayaannya melimpah. Dahulu ia hidup dalam kemewahan. Kemudian Islam datang, mengajarkannya arti sebuah kesederhanaan.
Kesederhanaan tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan. Kesederhanaan lebih mewakili sikap menjaga diri dari berlebih-lebihan. Karena orientasi hidup bukanlah semata untuk memuaskan keinginan di dunia. Melainkan untuk negeri yang lebih kekal, akhirat. Kesederhanaan bukan pula menjadi wujud penghindaran dari kekayaan dunia sebagai pelindung kemalasan. Umar hidup dalam kesederhanaan untuk dirinya, namun tidak pelit memberikan harta di jalan Allah.
Umar pernah bersaing dengan Abu Bakar untuk berinfak saat persiapan perang Tabuk. Ia serahkan separuh hartanya.
Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar Khatab, ia berkata, “Rasulullah menyuruh kami untuk mengeluarkan sedekah. Kebetulan saat itu aku sedang memiliki harta. Lalu aku katakan, “Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, dimana aku tidak pernah mengalahkan Abu Bakar sebelum ini. Aku datang kepada Rasulullah untuk menginfakkan separuh dari harta milikku.
Rasulullah bertanya kepadaku, “Lalu apa yang kau sisakan untuk keluargamu.”. Aku katakan kepada Rasulullah bahwa aku meninggalkan seperti apa yang aku infakkan. Kemudian Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan menginfakkan semua hartanya. Rasulullah menanyakan padanya,
“Lalu apa yang kau sisakan untuk keluargamu?”
“Aku menyisakan untuk mereka Allah dan Rasulullah”
Aku (Umar) berkata setelah itu bahwa aku tidak mungkin dapat mengalahkan Abu Bakar dalam segala hal untuk selamanya.”
Tentang kesungguhan Umar ra dan kebaikannya dalam masalah harta, Abdullah bin Umar ra berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun setelah Rasulullah Saw yang begitu bersungguh-sungguh dan paling baik dalam menggunakan hartanya hingga wafat selain Umar bin Khatab.” (Fathul Bari, al-Hafidz Ibn Hajar Al Asqalani)
Itulah sekelumit riwayat seorang raja yang tak memiliki istana.

e. hamdani (penulis buku agar Allah selalu bersama kita)
tulisan ini pernah dimuat di Majalah Bakti

0 komentar:

Posting Komentar